PEMETAAN TINGKAT PENCAPAIAN MUTU PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI PROPINSI DIY[1]

Oleh: Hiryanto[2], dkk

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:1) kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini; 2). keterlaksanaan buku panduan dan kesesuaiannya dengan kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini; 3).tingkat ketercapaian mutu pendidikan dari penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini; dan 4).faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi tingkat ketercapaian mutu pendidikan anak usia dini.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, Lokasi penelitian berada di Taman Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB) yang ada di kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul sebanyak 13 lembaga, Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah para pengelola dan tutor (pendidik) pada lembaga pendidikan anak usia dini tersebut. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu mahasiswa dengan menggunakan wawancara terpimpin dan observasi. Selanjutnya setelah data terkumpul analisis data dilakukan dengan cara mendisplay data, reduksi dan menarik kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Secara umum pedoman atau penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini dilihat dari 10 patokan program dikmas

yang meliputi, peserta didik, tutor, pengelola/penyelenggara, program pembelajaran, kelompok belajar, sarana bermain, panti belajar, dana belajar, ragi belajar dan hasil belajar sudah terlaksana walaupun memiliki variasi, 2) Tingkat pencapaian mutu pendidikan anak usia dini dilihat dari Standar Minimal Manajemen (SMM), Standar Minimal Tenaga Kependidikan (SMTK) dan Standar Pelayanan Minimal (SPM), juga memiliki variasi yang sangat beragam dan 3) Faktor pendukung pencapaian mutu pendidikan anak usia dini adalah: meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini, gencarnya sosialiasi yang dilakukan oleh pemerintah, sedangkan yang menjadi faktor penghambat antara lain: keterbatasan pendanaan, kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh pendidik terkait dengan pendidikan anak usia dini, rendahnya partisipasi masyarakat di bidang pendidikan anak usia dini, khususnya pada PAUD yang di perdesaan.

 

Kata Kunci: Pendidikan Anak Usia Dini, Standar Pelayanan Minimal

 

Pendahuluan

Penyiapan SDM yang unggul harus dimulai sejak dini bahkan sejak pralahir karena pembentukan organ tubuh termasuk otak terjadi sejak 10-12 minggu setelah peristiwa pembuahan. Menurut ahli neurology otak manusia terdiri dari bermilyar neuron sebagai unit dasar otak dimana setiap neuron terdiri dari inti, badan sel, dendrite dan akson. Proses pembentukan jaringan otak manusia terjadi dalam empat tahap dimana tiga tahap pertama terjadi pada masa pra lahir. Tahap 1-3 merupakan tahap embrional yang terjadi saat anak masih dalam kandungan, sedangkan tahap 4 merupakan tahap terakhir terjadi setelah anak lahir.

Dalam penelitian lain, Bloom, dalam Sujiono (2005: 10) mengemukakan bahwa pengembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50 % variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun, Peningkatan 30 % berikutnya terjadi pada usia 8 tahun dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasa warsa kedua. Ini berarti bahwa pengembangan yang terjadi pada usia 0-4 tahun sama besarnya dengan pengembangan yang terjadi pada usia 4 tahun hingga 15-20 tahun. Pengembangan yang terjadi pada usia 4-8 tahun lebih besar daripada pengembangan yang terjadi pada usia 8 tahun hingga 15-20 tahun. Dalam kaitan ini Bloom mengatakan bahwa 4 tahun pertama merupakan kurun waktu yang sangat peka terhadap kaya miskinnya lingkungan yang akan stimulasi.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka tidaklah berlebihan apabila para ahli menyebut periode pengembangan pada masa kanak-kanak sebagai masa emas (gold ages) yang hanya satu kali dan tidak bisa ditunda waktunya. Dalam kaitan ini karena stimulasi dari lingkungan sangat diperlukan anak dalam mengembangkan potensi kecerdasan maka upaya pendidikan dini sebagai bentuk stimulasi psikososial sedini dan sebanyak mungkin pada usia dini menjadi hal yang sangat penting. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas SDM yang pada gilirannya bangsa kita akan menjadi bangsa yang berkualitas tinggi dan penuh daya saing.

Para penganut pahan nativisme, memandang bahwa anak yang dilahirkan telah

memiliki blue print berupa bakat sebagai potensi genetik yang dibawa sejak lahir. Faktor inilah yang membuat individu menjadi unik karena berbeda dengan individu lainnya. Penganut nativisme beranggapan bahwa anak berkembang secara alami seperti bunga di taman, tumbuh, bertambah tinggi dan berbunga. Pengembangan tersebut mengikuti keumuman tahap pengembangan yang akan dialami oleh setiap anak. Namun Gaseli mengakui bahwa lingkungan juga mempunyai peranan penting dalam mengembangkan kemampuan bawaan. Sungguhpun anak lahir membawa bakat yang lebih dari satu namun bakat akan hilang apabila tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya. Sedangkan menurut ahli psikoanalisis, lingkungan memberi peran yang sangat besar dalam pembentukan sikap, kepribadian dan pengembangan kemampuan anak. Dari lingkungan anak aktif melakukan proses belajar. Kemampuan otak dapat terus ditingkatkan melalui belajar.

Mengingat pentingnya perkembangan anak usia dini, maka semenjak tahun 2001, telah dibentuk sebuah Direktorat PADU, dibawah Ditjen PLSP Depdiknas yang bertugas memberikan pembinaan teknis terhadap upaya pelayanan pendidikan anak usia dini (0-6 tahun yang dilaksanakan melalui Penitipan Anak, Kelompok Bermain dan satuan PADU sejenis agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh kembang dan potensi masing-masing.(Direktorat PADU, 2002: 1). Seiring dengan keberadaan Direktorat baru di masyarakat tumbuh lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PADU) dalam jalur pendidikan non formal baik dalam bentuk kelompok bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) ibarat jamur di musim kemarau, baik di masyarakat perkotaan maupun di desa-desa, walaupun di lihat dari perbandingan antara anak yang berusia dini dengan ketersediaan lembaga PADU belum seimbang, artinya masih banyak anak yang belum terlayani oleh lembaga PADU sebagaimana dikemukakan oleh Fasli Jalal (2002), bahwa dari sekitar 26,17 juta anak usia dini (0-6 tahun, yang terlayani pendidikan baru 7,16 juta (27,36 %). Apabila dirinci, usia 0-3 tahun ada 13,50 juta yang terlayani di Bina Keluarga Bina atau yang sejenisnya baru 2,53 juta (18,74 %), Usia 4-6 tahun berjumlah 12, 67 juta, yang terlayani pendidikannya 4,63 juta (36,54%), yakni: di TK (± 1,6 juta), RA (± 0,5

juta), di Kelompok bermain (± 4.800 anak) di Penitipan anak (± 9,200 anak) dan di SD/MI (± 2,6 juta).

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa masih ada kurang lebih 19,1 juta (73 %) anak-anak usia dini yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan secara terprogram, padahal di Negara-negara maju seperti Inggris, Amerika juga Jepang, pendidikan anak usia dini ditempatkan pada prioritas yang amat tinggi, karena pada usia dini itulah sebenarnya pembentukan berbagai kemampuan otak, kejiwaan, fisik, kepribadian dan juga perilaku dapat dilakukan secara lebih konduktif, bahkan karena strategisnya pendidikan anak usia dini di Inggris program itu ditangani oleh tiga departemen sekaligus, yaitu Departemen Pendidikan, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Kesehatan (Suyanto, 2004)

Pengelolaan lembaga pendidikan anak usia dini yang dilaksanakan dalam pendidikan non formal (KB, TPA dan SPS), di masyarakat memiliki variasi yang sangat beragam, ada yang sudah sangat baik dilihat dari perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan, penggerakkan, maupun evaluasi, Namun sebaliknya, ada juga lembaga pendidikan anak usia dini yang dikelola seadanya, artinya yang penting jalan, tidak melihat kualitas baik yang ada di masyarakat perkotaan maupun di masyarakat pedesaan yang dikelola oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, atau perorangan, sehingga dimungkinkan kurang memperhatikan persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan anak usia dini, yang pada akhirnya dapat berakibat tidak tercapainya tujuan dari pendidikan anak usia dini yaitu tercapainya tumbuh kembang anak usia 0-6 tahun secara optimal.

Atas dasar pertimbangan di atas untuk mengetahui gambaran pemetaan tingkat

pencapaian mutu pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini, di propinsi DIY di perlukan adanya penelitian yang mencoba mengungkap bagaimana kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga pendidikan anak usia dini baik di masyarakat perkotaan maupun di masyarakat pedesaan, serta kesesuaian penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini dengan pedoman penyelenggaraan yang diterbitkkan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini.

Berdasarkan pada latar belakang masalah dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut: a) Penyiapan sumberdaya manusia yang unggul dalam menghadapi tantangan dunia yang menglobal harus dimulai sejak dini usia., b) Masih banyaknya anak usia dini yang belum terlayani oleh lembaga Pendidikan anak usia dini karena keterbatasan c)Adanya variasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh masyarakat dan d) Belum diketahuinya tingkat pencapaian mutu pendidikan anak usia dini.

Mengingat luasnya cakupan permasalahan yang muncul pada pendidikan anak usia dini, agar lebih memfokus, maka penelitian ini perlu adanya pembatasan masalah, yaitu pada kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini, kesesuaian buku panduan dengan kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga pendidikan anak usia dini serta tingkat pencapaian mutu pendidikan anak usia dini .

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan rumusan

masalah sebagai berikut: a) Bagaimana kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di perkotaan dan pedesaan di DIY. b) Sejauhmana kesesuaian buku panduan dengan kondisi penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini,c) Sejauhmana tingkat ketercapaian mutu pendidikan anak usia dini dilihat dari penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga PAUD d) Faktor pendukung dan penghambat apa yang mempengaruhi ketercapaian mutu pendidikan anak usia dini.

Pemetaan tingkat pencapaian mutu dimaksudkan untuk mengetahuia Standar

Pelayanan Minimal (SPM) PAUD yang diartikan sebagai ukuran yang harus dipenuhi oleh para pengelola program atau kegiatan-kegiatan layanan dalam merencanakan dan

melaksanakan program atau kegiatan-kegiatan pendidikan luar sekolah.

Berdasarkan SPM yang dikembangkan, pengelola program atau kegiatan memperoleh gambaran tentang aspek layanan minimal yang harus dilakukan dalam melayani kelompok sasaran. SPM merupakan salah satu instrumen dari manajemen program atau kegiatan PAUD yang berupa Standar Minimal Manajemen (SMM), dan Standar Minimal Tenaga Kependidikan (SMTK). Keterkaitan antar instrumen manajemen PAUD dapat dilihat dari bagan berikut:

       
     

PROGRAM LAYANAN

Pendidikan, pusat informasi dan jaringan kemitraan

 

 

 

 

KELOMPOK Sasaran (Individu Kelompok)

 

                         

             
   
     
 
     
 
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Landasan dalam pengembangan SPM PAUD adalah kerangka sistem yang terdiri dari empat komponen integral. Komponen input, memberikan batasan analisis berapa besar calon peserta didik atau warga belajar dapat masuk kepada program/kegiatan layanan PAUD. Komponen proses untuk memunculkan layanan minimal yang dapat menjamin adanya (1) konsistensi rancangan program dengan proses dan (2) bahwa proses pelayanan dilakukan dengan konteks permasalahan atau kebutuhan warga sasaran. Komponen output dianalisis untuk memunculkan formulasi standar minimal yang dapat menjamin kelayakan dan hasil yang diterima warga sasaran melalui program/kegiatan layanan yang diikutinya. Komponen outcomes untuk melihat jaminan dari aspek kelaikterapan yang diterima warga sasaran pada lingkungan kehidupannya.

Berdasarkan SMM PAUD, bidang layanan yang langsung dapat diterima oleh warga sasaran meliputi (1) pendidikan, yang dilakukan baik pengajaran, pembimbingan maupun pelatihan, (2) pusat informasi, (3) kemitraan atau kerja sama. Setiap bidang dianalisis dari aspek input, proses, output, dan outcomes. Secara rinci, SPM PAUD dapat dilihat sebagai berikut: a) penggunaan program pembelajaran yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, b) memiliki gedung tempat proses pembelajaran dengan persyaratan minimal, c) adanya program kegiatan pembelajaran, d) Adanya tenaga pendidikan yang melaksanakan program kegiatan pembelajaran dengan kualifikasi minimal.

 

Metodologi Penelitian

Pemilihan subjek penelitian dengan menggunakan teknik porpusivise sampling, dengan memperhatikan kriteria yang telah ditetapkan yaitu: a) Kelompok bermain dan Tempat Penitipan Anak yang telah terdaftar di Dinas Pendidikan Nasional, b) Telah berjalan proses pembelajaran beberapa tahun, c) Terwakili dari penyelenggara yaitu, yayasan swasta, yayasan dibawah Depdiknas (SKB, BPKB), PKBM dan perseorangan, d). Terwakili untuk wilayah perkotaan (kota Yogyakarta) dan pedesaan (kabupaten Bantul) Dengan menggunakan kriteria tersebut, maka telah terpilih beberapa lembaga Pendidikan Anak Usia dini dalam jalur pendidikan non formal sebanyak 13 lembaga PAUD. Kelompok bermain dan Taman Penitipan Anak yang menjadi subjek penelitian adalah:

 

 

Tabel 1

Subjek penelitian

NO

Nama Lembaga PAUD

Alamat

Nama penyelenggara

1

TPA Aisyiyah

Tegalsari

Yayasan Aisyah

2

KB Ar-Rahmah

Sendangsari  Pajangan

PKBM Ngudimulyo

3

KB Bina Anak Islam Kapyak

Krapyak

Yayasan

4

KB Insan Utama Gatak

Gatak

Yayasan

5

PIAUD Prima

Sewon

SKB Bantul

6

KB Al-Hamdulilah

Kasihan

Yayasan

7

Book Monster Children Center

Jl Timoho Yogyakarta

PT

8

TPA RSU Bethesda

Jl Jenderal Sudirman

RS Bethesda

9

Play Goup “Primagama”

Jl Dewi Sartika Sagan

Primagama Group

10

KB Taman Balita Ceria

Jl. Cik dik Tiro

Yayasan

11

KB Ananda Ceria

Prawirodirjan

PKBM Garuda

12

KB Al-Khairat

Warung Boto YK

Yayasan

13

Kober Salma

Jl. Bung Tarjo 9A Yogyakarta

SKB Kota Yogyakarta

 

 

Pemilihan setting penelitian dilakukan pada subjek penelitian yang telah terpilih dengan menggunakan proporsive sampling, dengan cara menjalin hubungan dengan para pendidik dan pengelola sehingga dalam pengumpulan data dapat berjalan dengan baik serta melakukan pengamatan kapan waktu senggang mereka dalam proses pembelajaran.

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri dibantu oleh enam orang mahasiswa yang sekaligus sebagai peneliti untuk penyusunan tugas akhir, yang sebelumnya telah dilatih terlebih dahulu. Adapun sebagai acuan untuk menentukan pencapaian program pendidikan anak usia dini dipergunakan komponen dari 10 patokan dikmas, sebagai acuan untuk pengembangan pedoman wawancara yang meliputi: a. Penyelenggara/pengelola, b. Tutor/pendidik, c. Peserta didik, d. program pembelajaran, e. sarana dan prasarana, f. APE, g. Administrasi, h. kerjasama sama, i. panti belajar, j. Dana belajar dan k. Hasil belajar.

 Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kualitatif. Artinya data yang diperoleh dalam penelitian dilaporkan apa adanya kemudian diinterpretasikan secara kualitatif untuk mengambil kesimpulan dengan prinsip induktif.

Analisis data secara induktif adalah menganalisis data spesifik dari lapangan menjadikan unit-unit kemudian dilanjutkan dengan kategorisasi. Dalam penelitian ini kegiatan analisis dilakukan dengan cara mengelompokkan data yang diperoleh dari para pendidik dan pengelola Taman Penitipan Anak (TPA) Kelompok Bermain terkait dengan penyelenggaraan pelaksanaan pendidikan anak usia dini yang kemudian dilanjutkan dengan interpretasi dari jawaban-jawaban yang diperoleh.

Kredibilitas data dilakukan dengan menggunakan teknik trianggulasi yaitu upaya untuk mengecek kebenaran data tertentu dengan data yang diperoleh dari sumber lain (Nasution, 1992:15). Tujuan dari trianggulasi adalah mengecek kebenaran data tertentu dengan cross check yaitu dengan membandingkan data yang diperoleh dari sumber lain pada berbagai fase di lapangan, pada waktu yang berlainan dengan menggunakan metode yang berlainan pula. Trianggulasi merupakan usaha untuk melihat hubungan antara berbagai data agar mencegah kesalahan dalam analisis data.

 Menurut Nasution (1992:16) bahwa adanya trianggulasi tidak hanya sekedar menilai kebenaran data, akan tetapi dapat menyelidiki validitas tafsiran penulis mengenai data tersebut dan pada akhirnya akan memberikan kemungkinan bahwa kekurangan informasi yang pertama dapat menambah kelengkapan dari data yang sebelumnya. Tujuan akhir trianggulasi ini adalah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak, agar ada jaminan tentang tingkat kepercayaan data. Cara ini juga dapat mencegah dari subyektivitas.

Dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Trianggulasi sumber yakni dengan mengecek kebenaran data yang diperoleh

dari para pendidik dengan menanyakan kembali secara bergantian pada waktu yang berbeda. Sedangkan penggunaan trianggulasi metode dengan mengecek data hasil penelitian yang sama dengan menggunakan metode yang berbeda yakni dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

  1. 1.      Tingkat Kesesuaian buku panduan dengan kondisi penyelenggaraan pendidikan

anak usia dini

Untuk melihat tingkat kesesuaian buku panduan penyelenggaraan yang diterbitkan oleh Direktorat, maka digunakan 10 patokan dikmas sebagaimana terlah dipaparkan dalam kajian teoritis, dimana berdasarkan paparan hasil penelitian di atas ditemukan variasi dalam mengimplementasikan penyelenggaraan pendidikan, dari 13 lembaga pendidikan anak usia dini (TPA dan KB) yang menjadi subjek penelitian, ditemukan dalam kriteria pengelompokkan usia ada yang telah sesuai dengan pedoman, namun masih banyak pula yang kurang memperhatikan kriteria tersebut hal ini dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik.

Jika dilihat dari kualifikasi yang dipersyaratkan untuk menjadi pengelola maupun tenaga pendidik/tutor minimal memiliki tingkat pendidikan PGTK ke atas serta memiliki pengalaman di bidang Pendidikan Anak Usia dini, terlihat berdasarkan paparan di atas memiliki latar belakang pendidikan SMA/SPG, Diploma serta S1, serta ada yang belum mengikuti pelatihan ke PAUD-an sama sekali serta yang pernah mengikuti, Dilihat dari rasio jumlah peserta didik didik rata-rata pendidik mengasuh peserta didik 1: 15 anak, hal ini jika dilihat rasio tenaga pendidik dengan peserta didik masih kurang ideal, seharusnya rasio pamong/tutor dengan peserta didik, didasarkan pada kelompok usia.

Program pembelajaran yang dilakukan sebagian besar mengacu pada menu pembelajaran pendidikan anak usia dini (TPA dan Kelompok Bermain), yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, walaupun juga ada yang dikembangkan berdasarkan latar belakang penyelenggaraan sehingga ada yang memadukan antara depdiknas dengan depag, atau bahkan sama sekali ada yang dikembangkan sendiri, walaupun ada juga yang menggunakan kurikulum dari Taman Kanak-kanak seperti yang dilakukan oleh KB Ar-Rahman di Pajangan bantul.

Pembelajaran dalam Pendidikan Anak Usia dini dapat berjalan lancar, maka perlu dilakukan adanya pengorganisasian KB maupun TPA, yang meliputi struktur organisasi dan pengadministrasian, dimana berdasarkan pengumpulan data semua lembaga PAUD telah melakukan pengorganisasian walaupun sangat bervariasi, sebagaimana yang dilakukan oleh KB Ar-rahmah sangat sederhana sampai yang cukup komplek sebagaimana yang dilakukan oleh KB PKK Bantul, serta kesemuanya telah melakukan pengadministrasian baik mengenai administrasi pengelolaan kegiatan, pengelolaan keuangan maupun kegiatan belajar mengajar.

Sarana bermain dalam bentuk Alat Permainan Edukatif (APE), sebagai sarana yang berfungsi membantu pamong dalam menciptakan situasi pembelajaran serta merangsang dalam pembentukan perilaku tertentu, telah dilaksanakan oleh hampir semua taman penitipan anak maupun kelompok bermain telah memiliki alat permainan edukatif walupun dilihat dari jumlah dan jenisnya masing-masing lembaga sangat bervariasi, hal ini tergantung dari kemampuan lembaga tersebut, ada yang sangat lengkap, tetapi ada juga yang masih sangat terbatas. Dalam ini termasuk juga ketersediaan sarana/prasarana pendukung lainnya seperti ruang belajar, ruang bermain dan perlengkapan lainnya juga sangat bervariasi.

Proses pembelajaran dapat berjalan dengan optimal manakala kelompok bermain maupun TPA, memiliki panti belajar atau tempat belajar yang memenuhi kriteria tertentu, dari hasil pengamatan maupun wawancara yang dilakukan, status panti belajar yang dimiliki bervariasi statusnya ada yang hasil menyewa, pinjam ke persorangan atau takmir masjid, menggunakan ruang kosong dalam PKBM maupun milik sendiri, namun kesemua lembaga telah memiliki tempat belajar yang permanen.

Pendanaan belajar yang dipergunakan maupun cara perolehannya juga sangat

bervariasi, ada yang dana belajarnya cukup besar tetapi ada juga yang dananya sangat

kecil. Sumber dana belajar sebagian besar berasal dari SPP peserta didik tetapi juga ada yang dari sumbangan, infaq, juga dari APBD sebagaimana yang dilakukan oleh KB Salma, yang secara kebetulan berada dibawah SKB kota. Alokasi dana sebagian untuk operasional harian, transport pengelola dan pendidik, maupun pengadaan sarana maupun administrasi pendukung.

Guna menggairahkan peserta didik pada pendidikan anak usia dini diperlukan

adanya ragi belajar, yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik agar bergairah dalam mengikuti kegiatan belajar atau bermain, serta menghindarkan kejenuhan atau kebosanan serta menggairahkan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Bentuk ragi belajar antara lain, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, penggunaan berbagai jenis saran belajar dan pengaturan setting tempat duduk, dari hasil wawancara maupun pengamatan beberapa tutor atau tenaga telah mencoba berbagai pengaturan ruang yang bervariasi maupun menggunakan media/metode yang bervariasi pula.

Hasil belajar merupakan komponen terakhir yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian pedoman penyelenggaraan dengan kondisi riel penyelenggaraan lembaga pendidikan anak usia dini, Untuk mengetahui pencapaian dari peserta didik, maka diperlukan adanya evaluasi hasil belajar, apakah yang direncanakan dalam tujuan pembelajaran telah tercapai. Cara penilaian hasil belajar dapat dilakukan melalui pengamatan dan pencacatan anekdot, dan pemberian tugas, berdasarkan hasil pemaparan di atas hampir semua lembaga pendidikan anak usia dini yang menjadi subjek penelitian telah melaksanakan dalam bentuk evaluasi program yang pelaksanaannya sangat bervariasi dari setiap bulan hingga setahun sekali, demikian juga evaluasi pembelajaran yang dilakukan setiap hari maupun ada yang dilakukan setiap bulan.

  1. 2.      Tingkat pencapaian mutu pendidikan anak usia dini

Pencapaian mutu pendidikan anak usia dini dapat diukur dengan membandingkan hasil pencapaian program dengan standar nasional yang telah ditetapkan dilihat dari komponen input, proses dan output, lembaga pendidikan anak usia dini dikatakan bermutu apabila aktivitas pelayanan yang dilakukan betul-betul mengarah pada pencapaian hasil yang diharapkan dengan mendayagunakan input-input yang ada secara terpadu, harmonis dan optimal. Standar ini meliputi kurikulum, proses pembelajaran, peserta didik, ketenagaan, sarana dan prasarana, peranserta masyarakat, organisasi kelembagaan, administrasi dan manajemen serta lingkungan pendukung dan pembiayaan, dengan kata lain layanan PAUD bermutu manakala dapat memenuhi Standar Minimal Manajemen (SMM), Standar Minimal Tenaga Kependidikan (SMTK) serta Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Berdasarkan temuan dilapangan, dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di propinsi DIY, telah mencapai standar minimal manajemen, karena semua lembaga pendidikan telah melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran, menjadi pusat informasi pendidikan anak usia dini serta telah menjadi kemitraan atau kerjasama dengan institusi maupun perseorangan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat walaupun sangat bervariasi.

Sedangkan dilihat dari SPM, yang meliputi penggunaan program pembelajaran yang diterbitkan Depdiknas, semua lembaga penyelenggara PAUD yang ada telah menggunakan bahkan ada yang mencoba memodifikasi dengan kreativitas lembaga, namun juga ada yang tidak menggunakan tetapi menggunakan program pembelajaran TK, dilihat dari kepemilikian gedung tempat proses pembelajaran dengan persyaratan minimal, jika dikaitkan dengan standar sarana dan prasarana yang harus dimiliki, nampaknya berdasarkan hasil pengamatan masih jauh, karena kebanyakan mengatakan yang penting program bisa berjalan, walaupun ruang bermain dan ruang pendukung lainnya tidak memadai., kemudian jika dilihat dari adanya program kegiatan pembelajaran, maka semua lembaga pendidikan anak usia dini yang menjadi objek dari penelitian ini telah memiliki program kegiatan pembelajaran yang diambil dari menu acuan pembelajaran yang diterbitkan depdiknas maupun program pembelajaran yang dikembangkan sendiri oleh lembaga, yang kemudian dijabarkan dalam program tahunan atau catur wulan, Satuan Kegiatan Mingguan (SKM) dan Satuan Kegiatan Harian (SKH).

Jika dilihat dari Standar Minimal Tenaga Kependidikan (SMTK), dimana mensyaratkan memiliki latar belakang minimal DII PAUD/PGTK, atau mempertimbangkan ketersediaan SDM setempat, maka dapat dikatakan tenaga kependidikan yang ada telah memenuhi persyaratan, hanya saja dalam rasio antara pamong dengan anak belum ideal, karena ada dalam suatu lembaga pendidikan yang peserta didiknya 25 diasuh oleh 2 orang, atau ada yang peserta didiknya 29 anak pengasuhnya hanya 2 orang, seperti yang ada di TPA Bethesda sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Namun ada juga yang telah sesuai dengan ketentuan.

  1. 3.      Faktor pendukung dan penghambat dalam pencapaian mutu pendidikan anak usia dini.

Pencapaian mutu suatu program, termasuk pendidikan anak usia dini tergantung dari faktor pendukung maupun faktor penghambat dalam mencapainya. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan yang menjadi faktor pendukung antara meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini, sehingga mereka tidak keberatan menitipkan anaknya pada TPA maupun KB walaupun dengan biaya yang cukup mahal, hal ini didukung juga gencarnya pemerintah mensosialisasikan melalui dinas pendidikan dengan memberikan pelatihan-pelatihan baik untuk pengelola maupun tenaga pendidik pada lembaga PAUD, sehingga diharapkan lembaga PAUD dapat memberikan layanan yang optimal. Sedangkan faktor penghambat yang dirasakan dalam pencapaian mutu pendidikan anak usia dini, meliputi keterbatasan dana yang dimiliki, kurangnya sarana dan prasarana, serta rendah dan keterbatasan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki keperdulian terhadap pendidikan anak usia dini, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan anak usia dini khususnya pada masyarakat pedesaan sehingga untuk mengatasinya karena keterbatasan dana dengan minta donatur dari masyarakat, melakukan pembinaan terhadap tenaga kependidikan melalui program pengayaan maupun mengikutsertakan pengelola maupun pendidik dalam berbagai pelatihan maupun workshop pendidikan anak usia dini.

 

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

Dilihat dari kesesuaian pedoman penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dengan kondis riel penyelenggaraan secara umum dilihat dari 10 patokan program dikmas dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini di DIY dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Dilihat dari jumlah pengelola atau penyelenggara pendidikan anak usia dini, baik dalam Kelompok bermain maupun Taman Penitipan Anak sangat bervariasi tetapi rata-rata 4 orang, sedangkan dilihat dari kualifikasi pendidikan formal, 5 % berpendidikan S2, 56 % berpendidikan S1 dari berbagai disiplin ilmu, 5 % berpendidikan DII dan 34 % berpendidikan SMA.

Sedangkan jumlah tenaga pendidik yang merupakan ujung tombak proses pembelajaran, rata-rata 3-4 orang dengan kualifikasi pendidikan formal juga beragam

mulai dari SMA/SPG, Diploma serta S1, serta ada yang belum mengikuti pelatihan ke

PAUD-an sama sekali serta yang pernah mengikuti, Dilihat dari rasio jumlah peserta didik rata-rata pendidik mengasuh peserta didik 1: 15 anak, sehingga dapat dikatakan belum sesuai dengan acuan.

Penggunaan program pembelajaran sebagian besar mengacu pada menu pembelajaran generic yang dikembangkan oleh Direktorat PAUD, tetapi ada juga yang mencoba mengkombinasikan kreativitas lembaga, yang kemudian dituangkan dalam program tahunan, SKH, SKM, tetapi ada juga yang mengacu pada program pembelajaran TK. Metode pembelajaran yang dipergunakan masih sangat bervariasi, ada yang masih menggunakan pendekatan konvensional, tetapi ada yang sudah menggunakan KBK serta BBCT.

Ketersediaan Alat Permainan Educatif (APE) serta sarana dan prasarana cukup

bervarasi juga, ada yang sama sekali minim dengan sarana prasarana yang penting jalan, tetapi ada yang cukup lengkap terutama PAUD yang diselenggarakan oleh yayasan, namun demikian jika dilihat dari rasio alat yang dimiliki dengan jumlah peserta didik, belum memadai.

Administasi sebagai pendukung pelaksanaan penyelenggaraan suatu lembaga

pendidikan, baik yang meliputi administasi pengelolaan kegiatan, pengelolaan keuangan dan kegiatan belajar mengajar, semua telah tersedia walaupun dalam pengisian tidak semua dilakukan.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dalam lembaga PAUD sebagaian besar telah mengadakan kerjasama dengan lembaga lain seperti puskesmas, lembaga psikologi, kolam renang, maupun perseorangan.

Proses pembelajaran dalam PAUD akan dapat efektif manakala memiliki tempat belajar yang memadai dalam artian jumlah ruang maupun kepemilikan berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepemilikan tempat belajar juga bervariasi ada yang milik sendiri, sewa pada perseorangan maupun milik lembaga seperti SKB, BPKB. Sedangkan dilihat dari ukuran serta jumlahnya dilihat dari standar minimal sebagian belum memenuhi standar.

Pendanaan dalam kegiatan pembelajaran, bersumber dari APBD untuk lembaga PAUD yang diselenggarakan oleh SKB sedangkan lembaga yang lain sebagian besar berasal dari SPP peserta didik, infaq maupun uang pangkal. Penggunaan dana selain untuk operasional harian juga dipergunakan untuk menggaji para pendidik, maupun sewa tempat.

Ketercapaian program maupun kegiatan pembelajaran semua lembaga PAUD telah melakukan evaluasi program yang waktu bervariasi ada yang 1 kali setahun, ada yang 2 kali, sedangkan untuk evaluasi pembelajaran dilakukan setiap catur wulan, maupun harian, yang dilakukan bersama antara pengelola dengan pendidik.

Dilihat dari pencapaian mutu pendidikan anak usia dini, maka dengan menggunakan Standar Manajemen Minimal (SMM), Standar Minimal Tenaga Kependidikan (SMTK) serta Standar Pelayanan Minimal, lembaga pendidikan anak usia dini di kota Yogyakarta cenderung lebih baik dibanding dengan yang ada di kabupaten Bantul, terutama dalam tenaga kependidikan.

Faktor pendukung dalam pencapaian mutu program pendidikan anak usia dini

meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini, sehingga mereka tidak keberatan menitipkan anaknya pada TPA maupun KB walapun dengan biaya yang cukup mahal, hal ini didukung juga gencarnya pemerintah mensosialisasikan melalui dinas pendidikan dengan memberikan pelatihan-pelatihan baik untuk pengelola maupun tenaga pendidik pada lembaga PAUD, sedangkan yang menjadi penghambat yang dijumpai dalam pencapaian program pendidikan menurut informan sebagian besar karena terbatasnya pendanaan, kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh pendidik terkait dengan pendidikan anak usia dini, rendahnya partisipasi masyarakat di bidang pendidikan anak usia dini, khususnya pada PAUD yang di pedesaan.

 

Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian tentang pemetaan tingkat pencapaian mutu pendidikan anak usia di propinsi DIY, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

  1. Guna meningkatkan pelayanan pendidikan usia dini, diperlukan secara bertahap ketersediaan sarana prasarana, maupun alat permainan edukatif yang memenuhi standar sehingga pada gilirannya akan dapat mencapai harapan.
  2. Hendaknya para pendidik untuk selalu mengusahakan peningkatan kualitas tugas pendidik, melalui cara belajar sepanjang hayat, maupun bentuk-bentuk pelatihan yang lain.
  3. Pendidik hendaknya menyadari bahwa menjadi pendidik pada anak usia dini merupakan panggilan hati sehingga dapat optimal dalam melaksanakan tugasnya
  4. Lebih memperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini mulai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum masyarakat mendirikan TPA maupun KB.
  5. Terus meningkatkan sosialisasi pentingnya pendidikan anak usia dini di seluruh lapisan masyarakat sehingga partisipasi masyarakat akan semakin meningkat.
  6. Terus meningkatkan bantuan teknis baik pendanaan maupun pelatihan-pelatihan PAUD kepada pengelola maupun tenaga pendidik, agar mutu pendidikan semakin meningkat.

 

Daftar Rujukan

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Taman Penitipan Anak. Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Ditjen PLSP. Depdiknas

Depdiknas. 2001. Program Kegiatan Belajar (Kurikulum) Taman Penitipan Anak. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Kelompok Bermain. Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. Ditjen PLSP Depdiknas.

—————- 2002. Handout Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Pemuda (BPPLSP) regional II. Jayagiri.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Kelompok Bermain. Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Ditjen PLSP. Depdiknas

Fasli Jalal (2004) Peran Pendidikan Non Formal dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia Indonesia yang Cerdas dan Bermutu. Makalah Sosialisasi Nasional Pendidikan Non Formal, Yogyakarta: UNY

Lembaga Penelitian, UNY. 2004. Pedoman Penelitian Edisi 2004. Lembaga Penelitian UNY: Yogyakarta

Lexy Moleong, dkk (2004) Laporan Eksekutif Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas dengan Program studi Pendidikan Anak Usia Dini Program Pascasarjana UNJ

———————-. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Suyanto (2004). Pendidikan Non Formal dalam Sistem Pendidikan Nasional sesuai Undang-undang Nomor 20 tahun 2003. Makalah Sosialisasi Nasional Pendidikan Non Formal, Yogyakarta: UNY

Di akses pada Tanggal 9 mei 2013 di: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=jurnal%20pendidikan%20anak%20usia%20dini&source=web&cd=3&cad=rja&sqi=2&ved=0CDMQFjAC&url=http://staff.uny.ac.id/sites/default 


[1] Hasil Penelitian Research Grant Program Hibah Kompetisi (PHK) A-2 Prodi PLS

[2] Dosen Jurusan PLS FIP UNY

 

About these ads